FARMAKOFOR
Farmakofor
menurut IUPAC adalah faktor sterik dan elektronik yang diperlukan untuk
memastikan terjadinya interaksi molekuler secara optimal dengan struktur target
biologis spesifik sebagai penginduksi atau penghambat respon biologis(Hamzah et
al,2015)
Menurut
Hamzah et al (2014) Pemodelan farmakofor berbasis ligan telah menjadi strategi
dibidang komputasi khususnya untuk memudahkan penemuan obat khususnya agonis
dan antagonis reseptor estrogen alfa yang digunakan sebagai terapi
kanker leher rahim tanpa adanya sasaran struktur makromolekul dengan
menggunakan aplikasi MOE.
Pencarian
farmakofor secara hipotetik digambarkan sebagai pharmacophore query,
yaitu seperangkat fitur query yang biasanya dibuat dari titik anotasi ligan.
Titik anotasi adalah penanda dalam ruang yang menunjukkan lokasi dan jenis atom
atau gugus yang penting, seperti donor dan akseptor hidrogen, pusat aromatik,
posisi proyeksi interaksi yang mungkin, muatan gugus, dan bio-isosterik.
Poin-poin anotasi pada ligan adalah lokasi fitur yang potensial yang akan
menjadi query pharmacophore.
Fitur
farmakofor ditentukan melalui empat tahapan yaitu ;
- membuat database konformasi,
- membuat Query Pharmacophore,
- mencari fitur farmakofor berdasarkan Query Pharmacophore pada database konformasi,
- kemudian memperbaiki Query.
Farmakofor
atau pharmacophore adalah konfigurasi spasial fitur penting yang memugkinkan
molekul ligan untuk berinteraksi dengan reseptor target tertentu. Dengan tidak
adanya struktur reseptor dikenal, farmakofor dapat diidentifikasi dari suatu
sel ligan yang telah diamati untuk berinteraksi dengan reseptor sasaran. Sebuah
farmakofor didefinisikan sebagai susuanan 3D fitur yang sangat penting untuk
molekul ligan untuk berinteraksi dengan reseptor target dalam situs pengikatan
tertentu. Setelah diidentifikasi, farmakofor dapat berfungsi sebagai
model penting untuk screening virtual , terutama dalam kasus dimana struktur 3D
dari reseptor tidak diketahui dan teknik docking yang tidak berlaku.
Farmakofor
merupakan posisi geometrik tiga dimensi dari gugus-gugus yang terdapat di dalam
suatu ligan yang membentuk suatu pola yang unik yang dapat dikenali oleh
reseptor secara spesifik yang bertanggung-jawab terhadap proses pengikatan
ligan dengan suatu reseptor dan aktivasi reseptor tersebut (Thomas, 2007).
Pendekatan
farmakofor telah menjadi salah satu alat utama dalam penemuan obat. Berbagai
metode berbasis ligan dan berbasis struktur telah dikembangkan untuk permodelan
farmakofor yang lebih baik dan telah berhasil dan diterapkan luas. Fitur
pendekatan farmakofor ini diharapkan dapat memperkecil waktu dan biaya dalam
penemuan dan perkembangan obat baru. Fitur khas pada farmakofor yaitu : sentral
hidrofobik, cincin aromatik, akseptor atau donor hidrogen, kation dan anion.
Titik farmakofer ini bisa saja terletak pada ligand itu sendiri atau bisa
terletak di reseptor.
Proses pengembangan model farmakofor umumnya
melibatkan langkah-langkah berikut:
- Pilih satu set ligan pelatihan - Pilihlah kumpulan molekul yang beragam secara struktural yang akan digunakan untuk mengembangkan model farmakofor. Sebagai model farmakofor harus dapat membedakan antara molekul dengan dan tanpa bioaktivitas, himpunan molekul harus mencakup senyawa aktif dan tidak aktif.
- Analisis konformasional - Buat satu set konformasi energi rendah yang cenderung mengandung konformasi bioaktif untuk masing-masing molekul yang dipilih.
- Superimposisi molekul - Superimpose ("fit") semua kombinasi konformasi energi rendah dari molekul. Kelompok fungsional serupa (bioisosterik) yang umum untuk semua molekul dalam himpunan dapat dipasang (mis., Cincin fenil atau gugus asam karboksilat). Himpunan konformasi (satu konformasi dari masing-masing molekul aktif) yang menghasilkan kecocokan terbaik dianggap sebagai konformasi aktif.
- Abstraksi - Transformasi molekul yang dilapiskan menjadi representasi abstrak. Sebagai contoh, cincin fenil yang dilapiskan dapat disebut secara lebih konseptual sebagai elemen 'batang aromatik' farmakofor. Demikian juga, gugus hidroksi dapat ditunjuk sebagai elemen farmakofor donor / akseptor hidrogen-ikatan.
- Validasi - Model farmakofor adalah hipotesis yang menghitung aktivitas biologis yang diamati dari sekumpulan molekul yang mengikat target biologis yang sama. Model ini hanya berlaku sejauh ia mampu menjelaskan perbedaan aktivitas biologis dari berbagai molekul.
Tipe ikatan
farmakofor
- Ikatan Hidrogen (Asam-Basa Lewis).
Dalam kimia, ikatan hidrogen adalah sejenis gaya
tarik antar molekul
atau antar dipol-dipol yang terjadi antara dua muatan listrik parsial
dengan polaritas yang berlawanan. Walaupun lebih kuat dari kebanyakan gaya
antarmolekul, ikatan hidrogen jauh lebih lemah dari ikatan kovalen
dan ikatan ion.
Ikatan hidrogen terjadi ketika sebuah molekul memiliki atom N, O, atau F yang
mempunyai pasangan elektron bebas (lone pair electron). Kekuatan ikatan
hidrogen ini dipengaruhi oleh perbedaan elektronegativitas antara atom-atom
dalam molekul tersebut. Semakin besar perbedaannya, semakin besar ikatan
hidrogen yang terbentuk. Ikatan hidrogen memengaruhi titik didih suatu senyawa.
Semakin besar ikatan hidrogennya, semakin tinggi titik didihnya. Namun, khusus
pada air (H2O), terjadi dua ikatan hidrogen pada tiap molekulnya.
Akibatnya jumlah total ikatan hidrogennya lebih besar daripada asam florida
(HF) yang seharusnya memiliki ikatan hidrogen terbesar (karena paling tinggi
perbedaan elektronegativitasnya) sehingga titik didih air lebih tinggi
dari pada asam florida.
- Ikatan Van der walls
Gaya van der Waals dalam ilmu kimia merujuk pada jenis
tertentu gaya antar molekul. Istilah ini pada awalnya merujuk pada semua jenis
gaya antar molekul, dan hingga saat ini masih kadang digunakan dalam pengertian
tersebut, tetapi saat ini lebih umum merujuk pada gaya-gaya yang timbul dari polarisasi
molekul menjadi dipol. Gaya Van Der Waals terjadi akibat interaksi antara
molekul-molekul non polar (Gaya London), antara molekul-molekul polar (Gaya
dipole-dipol) atau antara molekul non polar dengan molekul polar (Gaya
dipole-dipol terinduksi). Ikatan Van Der Waals terdapat antar molekul zat cair
atau padat dan sangat lemah. Karena gaya ini sangat lemah maka zat yang
mempunyai ikatan van der waals akan mempunyai titik didih yang sangat rendah.
Meskipun demikian gaya van der waals bersifat permanen dan lebih kuat dari gaya
london. Contoh gaya van der waals terdapat pada senyawa hidrokarbon. Misalnya
pada senyawa CH4. Perbedaan keelektronegatifan C (2,5) dengan H
(2,1) sangat kecil, yaitu sebesar 0,4.
- Ikatan Ion
Ikatan ion merupakan suatu ikatan yang terjadi
pada atom yang memiliki muatan yang besarnya sama tapi mempunyai muatan
yang berlawanan tanda. Ikatan ion terbentuk sebagai akibat adanya gaya tarik
menarik antara ion positif dan ion negatif. Ion positif terbentuk karena unsur
logam melepaskan elektronnya, sedangkan pada ion negatif terbentuk karena unsur
nonlogam menerima elektron. Ikatan ion terjadi karena adanya serah terima
elektron. Atom-atom membentuk suatu ikatan ion karena masing-masing atom ingin
mencapai keseimbangan/kestabilan seperti struktur elektron gas mulia.
- Konformasi Aktif
Konformasi adalah suatu penataan ruang tertentu
dari atom – atom dalam molekul. Konformasi aktif diadopsi dari suatu obat.
Identifikasi konformasi aktif berguna untuk mengkonformasi 3 dimensi dari suatu
molekul. Konformasi aktif yang stabil menjadi suatu harapan.
Mendefinisikan kerangka minimum yang menghubungkan
kelompok pengikat penting.
Mendefinisikan posisi relatif di ruang kelompok
pengikat penting.
1. apa itu farmakofor?
2. apa saja ikatan dalam menentukan farmakofor?
3. apa perbedaan farmakofor 3D dan 2D?



Artikel yg sgt bermanfaat. terimakasih
BalasHapushy dyah artikel anda sangat membantu saya
BalasHapusterimakasih
BalasHapushy dyah artikel ny sangat bermanfaat
Hai diaahhhh, artikel yang sangat membantu, semoga bermanfaat bagi pembaca nyaa
BalasHapus